BANYUMAS – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya dalam mengawal program prioritas pembangunan daerah melalui pendekatan saintifik. Langkah ini diwujudkan lewat gelaran Rapat Koordinasi (Rakor) Sinergitas Riset dan Inovasi Tahun 2026 yang berlangsung di Aula Kebun Raya Baturraden, Banyumas, Selasa (10/02).
Mengusung tema “Penguatan Kolaborasi Berbasis Riset & Inovasi Dalam Pembangunan Daerah di Jawa Tengah”, forum ini menjadi titik temu strategis untuk menerjemahkan visi Gubernur Jawa Tengah, yakni semangat “Ngopeni, Nglakoni Jateng”, ke dalam kebijakan yang berbasis data dan inovasi.
Menyelaraskan Kebijakan dan Praktik Lapangan
Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris BRIDA Provinsi Jateng, Dr. Joko Mulyono, S.STP, M.Si., yang hadir mewakili Kepala BRIDA Provinsi Jateng. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa riset tidak boleh berhenti di atas kertas, melainkan harus menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat.
Dua narasumber utama memberikan perspektif mendalam mengenai peta jalan pembangunan:
- Drs. Johan H, M.S (Kabid PPM Bappeda Prov Jateng): Memaparkan arah kebijakan Pemerintah Provinsi yang mengedepankan sinergi lintas sektor agar setiap riset memiliki daya ungkit terhadap ekonomi daerah.
- Kentis R, SH. MM (Kepala BRIDA Kota Surakarta): Membagikan best practice mengenai keberhasilan Surakarta dalam membangun ekosistem riset yang inklusif, yang diharapkan dapat menjadi pemantik inspirasi bagi daerah lain di Jawa Tengah.
“Kolaborasi ini adalah kunci. Kita ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam riset memiliki dampak nyata bagi masyarakat Jawa Tengah,” ujar Dr. Joko Mulyono di sela-sela kegiatan.
Sinergi Lintas Wilayah
Rakor ini diikuti oleh sedikitnya 100 peserta yang hadir secara hibrida (luring dan daring). Peserta terdiri dari representasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jajaran BRIDA/BAPERIDA dari Kabupaten dan Kota se-Jawa Tengah, serta tim internal BRIDA Provinsi.
Kehadiran peserta dari berbagai tingkatan pemerintahan ini menunjukkan adanya upaya serius untuk menghilangkan ego sektoral dalam pengembangan inovasi. Melalui rakor ini, diharapkan terjadi sinkronisasi program riset antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota agar selaras dengan target pembangunan 2026.
Pemilihan Kebun Raya Baturraden sebagai lokasi kegiatan juga memberikan simbol tersendiri mengenai pentingnya inovasi yang selaras dengan pelestarian lingkungan dan potensi lokal Jawa Tengah.





