SOLORAYA – Dalam upaya memperkuat ekosistem inovasi dan memastikan validitas teknologi tepat guna, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah melakukan kunjungan lapangan bersama tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Senin, 27 Januari 2025.
Rangkaian kunjungan ini menyasar tiga lokasi strategis di Kabupaten Sukoharjo, Kota Surakarta, dan Kabupaten Karanganyar guna melakukan verifikasi teknis terhadap inovasi lokal yang berpotensi dikembangkan secara masif.
1. Uji Kelayakan “Pitara” di PT PIMAS, Sukoharjo
Lokasi pertama yang dikunjungi adalah PT PIMAS di Kabupaten Sukoharjo untuk meninjau Pirolisis Tabung Bertingkat (Pitara). Alat karya inventor Arif Surono dan Wahyu W. Widyanto ini memiliki kemampuan transformatif mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif.
Dalam verifikasi tersebut, tim BRIN memberikan tiga catatan penting untuk pengembangan:
- Peningkatan Efisiensi: Diperlukan uji emisi dan output keamanan lingkungan secara berkala.
- Uji Produksi: Melakukan pengecekan kinerja alat secara intensif guna memastikan konsistensi hasil.
- Optimalisasi Aliran: Merekomendasikan perubahan pada aliran filtrasi agar proses produksi lebih efisien.
- Analisis Ekonomi: Tim juga menekankan pentingnya perhitungan Break Even Point (BEP) dan kelayakan bisnis untuk fase pengembangan komersial.
2. Diskusi Bioteknologi di BP2TPH Wilayah II, Surakarta
Berlanjut ke lokasi kedua di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BP2TPH) Wilayah II Surakarta, fokus diskusi beralih ke sektor pertanian. Dipaparkan inovasi Biotek Sarwo Suket N-Level 1 beserta produk turunannya seperti Bio Saka dan Pupuk Organik Cair (POC).
Pertemuan ini menarik perhatian khusus dengan hadirnya Sekjen Kementan, Dr. Ir. Suwandi, M.Si., serta inventor M. Nasar secara daring. Hasil diskusi menyimpulkan bahwa meskipun Bio Saka menunjukkan potensi besar, diperlukan pembuktian ilmiah lebih lanjut, terutama dari perspektif fisika kuantum untuk menjelaskan mekanisme kerjanya secara empiris.
3. Verifikasi “Predator Sampah” di Tawangmangu, Karanganyar
Kunjungan berakhir di Beji, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, untuk memverifikasi alat Predator Sampah ciptaan Bapak Suwardi. Mesin ini mampu mengolah sampah basah maupun kering menjadi abu yang dapat dicampur dengan pupuk organik menggunakan bahan bakar oli bekas.
Secara visual, alat ini unggul karena tidak mengeluarkan limbah udara yang kasat mata berkat sistem pengikatan dengan air. Namun, tim BRIN memberikan catatan kritis terkait standar lingkungan:
- Regulasi Emisi: Kualitas emisi harus dipastikan sesuai dengan regulasi lingkungan hidup.
- Standarisasi Cerobong: Ketinggian cerobong minimal harus 2-3 kali tinggi bangunan sekitar dengan kecepatan emisi minimal 20 m/s untuk mencegah polutan turun ke pemukiman.
- Filtrasi Air: Diperlukan sistem filtrasi pada air limbah sebelum dibuang ke saluran umum.
Penutup dan Harapan
Kepala BRIDA Jawa Tengah menegaskan bahwa pendampingan dari BRIN sangat krusial agar inovasi para inventor lokal tidak hanya kreatif, tetapi juga aman, standar, dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Sinergi ini diharapkan mampu membawa karya putra daerah Jawa Tengah menuju tahap industrialisasi yang berkelanjutan.
Mari terus dukung karya inovator lokal untuk Jawa Tengah yang lebih maju dan ramah lingkungan!


