SEMARANG – Ajang bergengsi Anugerah Karya Riset Pembangunan Jawa Tengah 2025 kembali melahirkan terobosan strategis bagi kemajuan daerah. Salah satu sorotan utama jatuh pada Policy Brief Ketiga yang disusun oleh pakar teknologi pangan, Dr. Fitriyono Ayustaningwarno, S.TP., M.Si.
Karya riset ini terpilih sebagai salah satu pemenang karena dinilai mampu memberikan solusi konkret, aplikatif, dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah.
Menjawab Tantangan Daerah dengan Riset Aplikatif
Dalam Policy Brief tersebut, Dr. Fitriyono menekankan pentingnya integrasi teknologi pangan dalam memperkuat rantai pasok dan nilai tambah komoditas lokal. Mengingat Jawa Tengah merupakan salah satu lumbung pangan nasional, inovasi yang ditawarkan fokus pada:
- Hilirisasi Produk Pertanian: Mengubah bahan mentah menjadi produk olahan bernilai tinggi untuk meningkatkan pendapatan petani.
- Efisiensi Produksi: Implementasi teknologi tepat guna yang dapat diadopsi oleh pelaku UMKM di pelosok daerah.
- Ketahanan Gizi Masyarakat: Memastikan akses pangan yang tidak hanya melimpah secara kuantitas, tetapi juga berkualitas secara nutrisi.
“Riset bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan instrumen kebijakan yang harus mampu menjawab persoalan di lapangan. Policy brief ini dirancang agar pemerintah daerah memiliki panduan taktis dalam mengambil keputusan,” ungkap Dr. Fitriyono dalam sesi pemaparannya.
Mengapa Karya Ini Menjadi Pemenang?
Dewan juri Anugerah Karya Riset Pembangunan Jawa Tengah 2025 menetapkan karya Dr. Fitriyono sebagai yang terbaik berdasarkan beberapa parameter unggulan:
| Aspek Penilaian | Keunggulan Riset |
| Inovasi | Menawarkan metode baru dalam pengolahan pangan lokal yang ramah biaya. |
| Relevansi | Sangat sesuai dengan visi pembangunan jangka menengah Provinsi Jawa Tengah. |
| Dampak Sosial | Berpotensi menurunkan angka stunting melalui penguatan pangan fungsional. |
| Aplikabilitas | Rekomendasi kebijakan yang siap diimplementasikan oleh dinas terkait. |
Bukti Nyata Peran Akademisi
Kemenangan Dr. Fitriyono Ayustaningwarno menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara akademisi dan pemerintah (Pentahelix) adalah kunci utama percepatan pembangunan. Melalui Policy Brief Ketiga ini, diharapkan Jawa Tengah tidak hanya unggul dalam produksi pangan, tetapi juga menjadi pionir dalam inovasi kedaulatan pangan berbasis riset.
Para pembaca dan pemangku kepentingan diundang untuk menelaah lebih dalam hasil riset ini sebagai rujukan dalam pengembangan program pembangunan daerah di masa depan.
Jawa Tengah Maju dengan Riset, Sejahtera dengan Inovasi!
